Tarawangsa Rancakalong

Hampir semua kesenian yang berkembang di tanah Parahyangan mendapat pengaruh Islam yang dibawa Wali Sanga terutama Sunan Kalijaga, begitu juga dengan seni tarawangsa. Ada beberapa versi yang beredar tentang sejarah tarawangsa, meskipun beberapa cerita tersebut hampir sama ketika mencari tahu lewat bertanya langsung pada praktinya, ataupun melalui literasi baik cetak maupun daring. Salah satu daerah perkembangan kesenian tarawangsa yakni Desa Rancakalong, Kecamatan Rancakalong, Kabupaten Sumedang yang sejarahnya memiliki pengaruh yang besar dari Kerajaan Sunda. Dua pengaruh tersebut terserap pada pertunjukan tarawangsa khususnya, dan kesenian lain pada umumnya yang ada di tanah Rancakalong.

Tarawangsa adalah seni pusaka yang sangat dihormati di Desa Rancakalong, sehingga dijuluki seni ormatan. Tarawangsa sendiri memiliki arti dan dimaknai sebagai tatabeuhan rakyat wali nu salapan atau narawang ka nu Maha Kawasa. Tarawangsa juga memiliki tempat khusus untuk menghormai Nyai Nu Geulis, sebuah sebutan yang dituturkan orang-orang tua pada zaman dahulu di Tatar Sunda untuk makanan, khususnya beras dan nasi. Sedangkan Nu Kasep, sebutan untuk menunjukkan uang. Selain dilaksanakan pada upacara khusus, seperti Ngalaksa dan Bubur Suro, pertunjukan tarawangsa ini juga biasanya dilaksanakan setelah panen padi atau menyelenggarakan hajatan lainnya seperti syukuran dan menempati rumah baru.

Berikut beberapa peran dalam seni ormatan tarawangsa yang memiliki tugasnya masing-masing di setiap bagian pertunjukannya:

  • Saehu, adalah seorang pemimpin acara. Tidak semua orang dapat berperan sebagai saehu. Menjadi saehu disyaratkan telah memiliki tingkat kedewasaan lahir dan batin, bijaksana, serta memiliki keluwesan dalam penyampaian amanat kepada yang hadir di saat dirinya sedang menari. Terkadang berita yang didapatkan saat menari kurang baik dan tidak menyenangkan, namun sebagai seorang saehu berita tersebut harus disampaikan kepada yang bersangkutan atau kepada hadirin dengan sebaik mungkin. Sehingga niat baik dapat disampaikan dengan cara yang baik meski berita buruk sekalipun. Seorang saehu pun harus bisa memantau tingkat emosional orang-orang yang hadir, intinya, ia harus selalu waspada mulai dari persiapan, selama pertunjukan hingga acara berakhir. Itulah beberapa tugas utama seorang saehu.
  • Paibuan dan piramaan. Paibuan atau biasa dipanggil saehu istri merupakan pemimpin kelompok penari wanita. Sedangkan piramaan adalah pemimpin penari pria. Sama halnya dengan saehu, paibuan dan piramaan terkadang menerima pesan yang nantinya akan mereka sampaikan kepada orang-orang yang hadir. Pesan-pesan tersebut akan disampaikan melalui ucapan lisan langsung, atau melalui jabat jabat, atau menggunakan bahasa isyarat. Dalam berjabat tangan sendiri memiliki arti yang dalam, salah satunya apabila berjabat dengan kedua tangan berarti salam silaturahmi, sementara salam dengan satu tangan berarti ada amanat atau pesan. Sedangkan penyampaian pesan dapat melalui lisan secara langsung atau dengan bahasa isyarat yang menggunakan bahasa tubuh, bahsa isyarat itu yang masih banyak belum dipahami atau dimengerti maksudnya, di sinilah hadir peran seorang saksi yang akan memberitahu maknanya.
  • Saksi, Biasanya saksi pertama adalah para nayaga atau para pemain musik tarawangsa itu sendiri, sedangkan saksi kedua datang dari tamu undangan, seseorang yang sudah dituakan dan dianggap mumpuni. Seseorang tersebut memiliki kemampuan dan kematangan dalam mengartikan bahasa-bahasa isyarat tersebut.
  • Juru kunci, yakni seseorang yang bertanggung-jawab membuka komunikasi spiritual. Ia duduk bersila di samping parukuyan (wadah yang terbuat dari tanah liat tempat arang untuk membakar kemenyan) baik saat persiapan maupun selama pertunjukan. Seorang juru kunci harus tahu kapan waktunya untuk membakar menyan, sehingga komunikasi dan nuansa kesakralan dapat terus terjaga selama acara tengah berlangsung.
  • Terakhir, yang juga berperan sangat penting selama pertunjukan adalah Nayaga, yakni para musisi yang memainkan alat musik tarawangsa. Terdiri dari dua orang, satu memainkan rebab tarawangsa, sebuah alat musik gesek yang memiliki dua helai senar baja. Satu senar berfungsi untuk digesek semacam rebab untuk memainkan melodi khusus dari lagu-lagu sakral tarawangsa, sementara satu senar lainnya seperti dipetik atau dijentik, berperan sebagai gong dalam komposisi musiknya. Dan satu orang pemain musik lagi memainkan kacapi atau kecapi tarawangsa yang biasa disebut Berbeda dengan kecapi Sunda pada umumnya yang memiliki banyak senar. Jentreng hanya memiliki lima senar dan badan kecapi lebih ramping.

* Kang Nandang ( kiri), Kang Asep ( tengah ) and Kang Iya ( kanan )

 

Selain peran-peran khusus, dalam seni ormatan ini juga terbagi dalam beberapa tahapan acara atau babak, yakni:

  • Pertama, dibuka oleh sambutan dan doa yang disampaikan oleh saehu atau seseorang yang dituakan dalam rombongan maupun grup atau di tempat dilaksanakannya acara.
  • Kemudian, kedua, ibingan atau tarian yang diawali pertama kali oleh saehu.
  • Ketiga, ngalungsurkeun.
  • Keempat, ibingan saehu yan kedua.
  • Kelima, ibingan paibuan yang dilanjutkan dengan diringi oleh empat penari wanita lainnya ( dimana penari wanita pertama berperan sebagai Saehu wanita yang menjadi pusatnya / Puseur). Pada saat selesai menari dilanjutkan oleh tamu-tamu wanita yang datang.
  • Keenam, ibingan piramaan, sampai selesai menari kemudian dilanjutkan oleh para tamu khusus pria yang ingin ikut menari (kaul).
  • Kemudian ketujuh, nyumpingkeun, tahap ini adalah puncak kesakralan dari pertunjukan tarawangsa.
  • Dan terakhir, nginebkeun.

Gerakan tari dalam seni ini tidak dirancang atau diarahkan, sifatnya sangat cair, karena tarian tersebut merupakan sebuah media ekspresi yang diambil dari masing-masing pribadi penarinya. Suasana kebatinan di tiap penari sangat berperan penting dalam gerak tari tarawangsa ini. di mana secara lahir ada sesajian sesajen yang ada di hadapan para penari yang harus disuguhkan dan dipersiapkan dengan seksama syarat-syaratnya. Pun secara batin diemban dan diresapi maknanya oleh para hadirin, khususnya para penari. Tak jarang juga orang-orang yang menari mengalami trance dan itu tergantung dari kebatinan mereka sendiri.